Kesenian Jathilan Sebagai Bentuk Sajian Wisata Di Objek Wisata Kaliurang.
Kesenian Jathilan merupakan salah satu kesenian tradisional yang
terdapat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ditinjau dari fungsinya,
kesenian Jathilan pada saat ini telah berubah dari konteks yang semula
ritual religius, bersifat sakral dan magis, menjadi non ritual dan non
religius, yakni kesenian Jathilan berfungsi sebagai seni pertunjukan,
namun tidak menghilangkan unsur asli dari kesenian Jathilan. Seiring
dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni, masyarakat
mengalami perkembangan yang mengarah ke perubahan. Untuk mengantisipasi
perubahan tersebut, para seniman kesenian Jathilan mengemas kesenian
Jathilan sebagai seni wisata dengan kemasan yang menarik dan disesuaikan
dengan selera masyarakat atau wisatawan agar kesenian Jathilan sebagai
seni wisata di objek wisata Kaliurang diminati wisatawan. Permasalahan
yang akan dikaji adalah mengenai bagaimana kemasan kesenian Jathilan
sebagai bentuk sajian wisata di objek wisata Kaliurang, serta
kreativitas seniman kesenian Jathilan dalam menyajikan kesenian Jathilan
agar dapat menarik minat para wisatawan. Tujuan diadakan penelitian
adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan kemasan kesenian Jathilan
sebagai bentuk sajian wisata di objek wisata Kaliurang, serta
kreativitas seniman kesenian Jathilan dalam menyajikan kesenian Jathilan
agar dapat menarik minat para wisatawan. Manfaat penelitian adalah
memberikan informasi pada masyarakat untuk dapat mengenal kesenian
Jathilan, dijadikan landasan untuk lebih mengembangkan dan mengemas
kesenian Jathilan sebagai bentuk sajian wisata, dan memberi masukan dan
pertimbangan untuk lebih meningkatkan sajian wisata. Penelitian yang
dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif, dengan demikian akan
menghasilkan data yang bersifat deskriptif. Lokasi penelitian adalah
objek wisata Kaliurang Daerah Istimewa Yogyakarta. Fokus penelitian pada
kesenian Jathilan mencakup kemasan kesenian Jathilan sebagai bentuk
sajian wisata, unsur-unsur pendukung kesenian Jathilan, serta
kreativitas seniman dalam menyajikan kesenian Jathilan. Sumber data dari
teknik observasi, teknik wawancara dan teknik dokumentasi. Data yang
terkumpul kemudian dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data,
dan penyimpulan data. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan
menunjukkan bahwa kesenian Jathilan di objek wisata Kaliurang
dipertunjukkan pada acara pentas seni di objek wisata Kaliurang setiap
minggu dan dilaksanakan di sebuah arena di Telogo Putri objek wisata
Kaliurang. Adapun urutan pertunjukan kesenian Jathilan di objek wisata
Kaliurang terdiri dari lima bagian yaitu: 1) penyediaan sesajen, 2)
babak 1 (nggampingan), 3) dagelan yang dilakukan oleh Penthul dan
Tembem, 4) babak 2 (temanggungan), dan 5) babak 3 (Kejawen). Setiap
babak pada pertunjukan kesenian Jathilan di objek wisata Kaliurang
dilakukan oleh penari Jathilan yang biasa disebut dengan Jongki yang
berjumlah 6 orang. Gerak pada pertunjukan kesenian Jathilan di objek
wisata Kaliurang tidak mempunyai aturan yang baku. Ragam gerak pada
pertunjukan kesenian Jathilan menggambarkan persiapan prajurit sebelum
melakukan latihan perang dan ragam gerak yang menggambarkan prajurit
melakukan latihan perang. Alat musik yang digunakan dalam pertunjukan
yaitu: seperangkat gamelan laras slendro, bende, dan alat musik band.
Tata busana yang dikenakan para penari kesenian Jathilan adalah kostum
kejawen. Tata rias wajah para Jongki adalah rias muka yang dibuat tebal,
terutama alis dan perona pipi. Tempat pentas pertunjukan kesenian
Jathilan di objek wisata Kaliurang adalah berbentuk tanah lapang
terbuka. Properti yang digunakan adalah kuda kepang, cambuk atau pedang
yang terbuat dari bambu. Tata cahaya pada pertunjukan kesenian Jathilan
di objek wisata Kaliurang dengan pencahayaan matahari. Kreativitas
seniman kesenian Jathilan dalam menyajikan kesenian Jathilan agar dapat
diminati para wisatawan dilakukan oleh pencipta tari, pawang, penari
atau Jongki, pemusik dan penyanyi. Berdasarkan hasil penelitian
dikemukakan saran sebagai berikut: pertama, para seniman lebih
meningkatkan kreativitas dalam mengemas pertunjukan kesenian Jathilan
agar pertunjukan kesenian Jathilan semakin diminati oleh wisatawan serta
mencari bibit-bibit baru agar terjadi perbaharuan pada anggota grup
kesenian Jathilan sehingga kesenian Jathilan bertahan kelangsungan
hidupnya. Kedua, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata khususnya pengelola
objek wisata Kaliurang dapat memperbaiki tempat pertunjukan kesenian
Jathilan di objek wisata Kaliurang sehingga para penonton merasa nyaman
dalam menikmati pertunjukan kesenian Jathilan.