Mengenal Kesenian Jathilan / kuda lumping
Kesenian ini
merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang ada dan berkembang di
daerah pegunungan menoreh, tepatnya di sebelah selatan candi Borobudur.
Kesenian ini memiliki latar belakang yang berhubungan dengan sejarah
perang gerilya Pangeran Diponegoro. Ada beberapa sumber yang menyatakan bahwa kesenian jathilan ini berasal dari jawa timur, tepatnya kesenian Reog Ponorogo.dikatakan sebagai pemain Jothil.
Namun
di Borobudur,kesenian jathilan memiliki sejarah yang berbeda.Mereka
mendapatkan inspirasi dari melihat pasukan pangeran diponegoro yang
sedang melakukan perang gerilya di sepanjang pegunungan Menoreh.
Seringnya masyarakat Borobudur di pegunungan waktu itu melihat dan
menyaksikan pasukan gerilya Pangeran.Diponegoro membuat mereka memiliki
kedekatan emosional,dengan peristiwa sejarah tersebut. Lalu mereka
mengekspresikan rangsang visual mereka dalam bentuk kesenian yang
diiringi dengan musik gamelan yang diwujudkan dengan penari yang
menaiki kuda yang terbuat dari kepang/anyaman bambu. Maka kesenian
jathilan ini kadang juga dinamakan dengan kesenian kuda Kepang/kuda
Lumping(bahasa jawa).
Kesenian
ini juga menggunakan media trance untuk berhubungan dengan kekuatan
gaib yang ada dan mereka yakini menjadi sesepuh desa mereka. Ada
beberapa desa masih memiliki keyakinan akan hal tersebut. Salah satu
contoh yang sampai saat ini masih ereka lakukan adalah, Setiap mereka
melakukan pementasan mereka harus membawa air dari mata air dimana
terdapat batu bekas telapak kuda, yang dipercaya sebagai bekas telapak
kaki kuda Pangeran Diponegoro. Tradisi ini masih mereka bawa hingga
sekarang dan hal ini sudah menjadi tradisi mereka dalam menggelar
kesenian jathilan ini disetiap pertunjukan.
Trance
dalam pertunjukan jathilan juga kadang dipergunakan untuk menolak
bala/tolak bala atau menyembuhkan penyakit bagi orang yang
mempercayainya. Kekuatan alam ini sampai sekarang kadang masih mereka
lakukan dalam setiap hajatan. Masyarakat mereka yang memiliki kaul/
kehendak untuk menggunakan kesenian ini untuk merayakan sebuah
perayaan, baik khitanan, perkawinan bahkan nadar dari seseorang yang
memang menghendakinya.
Setiap
kelompok kesenian jathilan selalu memiliki seorang dukun yang dianggap
sebagai sesepuh di kelompok tersebut yang menjadi Penetralisasi
Trance. Sang dukun ini menjadi sebuah mediator yang menjembatani antara
manusia dan roh kekuatan magis tersebut.
Selain
Penari Prajurit, biasanya dalam pertunjukannya mereka juga menggunakan
beberapa topeng Buto yang menjadi pelengkap dari keseluruhan
pertunjukan kesenian jathilan tersebut yang disebut Grasak. Bagian
pertunjukan grasak ini biasanya merupakan babak terakhir dari
keseluruhan rangkaian pertunjukan kesenian jathilan.